Selasa, 25 Oktober 2011


Seperti halnya buku "the secret" Rhonda Byrn, apa yang kita pikirkan akan menjadi magnet terhadap sesuatu hal. Barusan saja saya berusaha menulis tentang ini, tentang masalah "integrity" atau integritas dalam bahasa serapan di Indonesia untuk milis PMI Indonesia, namun masih "nyantol" dalam handheld saya…
Tidak tahu harus berbuat apa. Jadi saya harus menulis ulang lagi tentang ini, namun sekaligus berkah karena mendapatkan triger dari tulisan tentang "Kecerdasan spiritual" dan hubungannya dengan PMBOK oleh pak Jaya Martha ini.

Sebagai insan penggiat Project Management (yang saya coba singkat sebagai: PM), sudah seharusnya masalah integritas adalah masalah yang sangat krusial dalam tulisan dibawah ini, yang mengambil topik sebagai "Kecerdasan Spiritual", dan hubungannya PMBOK dan ditambah dengan puisi "Jaman Edan" Ronggo Warsito ...

Yang ingin saya tanggapi agar lebih universal adalah masalah "integritas". Integritas dalam kata asalnya bahasa Inggris Integrity secara harfiah adalah; Ketulusan hati, Kejujuran; Keutuhan. Sudah lama Indonesia kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang mempunyai Integritas... Bangga sebagai bangsa Indonesia yang utuh yang jujur, religius dan agamis.

Bagi saya, saya melihat Integritas sebagai suatu sikap yang utuh yang mencerminkan compliance terhadap peraturan dan nilai-nilai (baik formal maupun non formal) yang ada sebagai seorang profesional
dibidangnya. Seingat saya, Masalah integritas, dalam test Project Management Professional (PMP) juga merupakan bagian dari exam, ada soal yang mempertanyakan tentang integritas ini yang biasa juga disebut "code of conduct" atau "Bussined ethics" atau mungkin bisa juga disebut sebagai integritas. Dan sertifikat ini bisa dicabut apabila kita terjerat masalah hukum / ethical.

Kelanjutan untuk diskusi, saya akan berangkat dari analisa dari premis berikut:

Premis Pertama:
Milis ini membawa nama ID/Indonesia sebagai sebuah kumpulan "insan profesional" di Bidangnya.

Premis turunannya:
Berapa banyak proyek indonesia menjadi sebuah "cibiran" dunia internasional karena dipenuhi dengan "kong-kalikong", "angpao", "sogokan" dan lain sebagainya. Dan itu terjadi di Indonesia yang
katanya Indonesia adalah bangsa yang agamis. Dan kenyataannya banyak kasus proyek yang sekarang dimeja hijaukan...

Sebenarnya siapa yang bertanggung jawab??
Jawabnya adalah kita semua, karena seharusnya sebagai penggiat PM di Indonesia, mengkampanyekan Integritas sebagai suatu kesatuan yang utuh sebagai seorang profesional.

Hal itu bisa dimulai dengan:
1. Peningkatan sosialisasi melalui milis lembaga profesional disini tentang masalah integritas. Sebagai kampanye bersama yang anti KKN. Karena saya yakin untuk hal memberantas KKN ini harus dimulai dari
lingkungan kita sendiri. Compliance terhadap peraturan, baik compliance terhadap peraturan internal perusahaan, lembaga pengatur negara dan ini harus menjadi pegangan utama setiap insan profesional dalam melangkah.

2. Lebih menghargai sertifikasi profesional yang ada, dan mendukung berkembangnya sertifikasi di Indonesia. Karena dengan berkembangnya sertifikasi profesional sebagai suatu standard kompetensi sekaligus
banchmark dengan dunia Internasional.

China saja sudah mempunyai PMP berbasis bahasa China, Indonesia - mengapa tidak?. Begitupun dengan sertifikasi semacam CMNP utk SCM.
CMIIW.

3. Lebih menghargai masukkan dan input dari kumpulan profesional, baik formal dan informal, sehingga peraturan dapat di customize lagi agar tidak menjadi sebuah peraturan yang malah jadi constrain dunia usaha.
Wacana dimilis APICS-ID tentang kampanye ERP di dunia pemerintahan / DPR kemarin, sangat saya dukung. Dan perlu juga dukungan semua pihak. Karena dengan sistem ERP atau e-procurement diyakini dapat mengurangi "kenakalan" oknum. Kalau bisa sebagai insan profesional dapat memberikan solusi alternatif dengan ERP "lokal" yang murah dan terjangkau tanpa harus memakai ERP yang "njlimet". Ribuan pakar IT Indonesia saya yakin mampu membuatnya, namun hanya karea kurang "jualan" maka tidak terpakai.

0 komentar: