Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2011

Planning and Schedulling Professional (PSP)
PSP certification, adalah sertifikasi yang dikeluarkan oleh AACE International, sebuah lembaga profesional nirlaba untuk keahlian cost engineering.
AACE adalah sebuah lembaga sertifikasi yang mungkin sudah terkenal di dunia industri konstruksi dengan CCE nya (Certified Cost Engineer) dan PSP adalah sebuah option bagi seorang scheduler, Planner, atau Project / Production Planning and Control untuk mendapatkan sertifikasi di AACE ini.
Namun untuk industri di Indonesia, lembaga ini memang tidak setenar seperti halnya Project Management Institute/ PMI, yang mengeluarkan sertifikasi PMP (Project Management Profesional).
Dan versi lokal nya, lembaga nirlaba Project Management ini, di Indonesia adalah IAMPI (Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia.

Memang ilmu tentang biaya (cost engineering) disebuah Industri tidak bisa lepas juga dari masalah penjadwalan, schedulling, sehingga menurut saya, AACE ini mengeluarkan sertifikasi PSP dengan requirement yang lebih minimal daripada sertifikasi CCE yang memerlukan papper (tulisan) ilmiah yang layak untuk dipublikasikan sebelum mendapatkan sertifikasinya.
Perlu diketahui juga, AACE tidak mengkhususkan diri pada dunia konstruksi, malah juga sebenarnya merefer pada dunia industri (manufaktur pada umunya) yang bisa dilihat pada bukunya Total Cost Management Framework (TCM Framework), yang bukunya dapat diunduh pada link-link laman e-book yang umum (scrbd.com atau di 4shared.com).

Dan berikut merupakan ringkasan yang saya ambil di web site AACE untuk sertifikasi PSP:

Candidates for the Planning and Scheduling Professional (PSP) designation must meet these minimum requirements:
1.Experience requirements
At least 8 full years of professional experience, of which up to 4 years may be substituted by college/university degree. Related degrees include: engineering, building construction, construction technology, business, economics, accounting, construction management, architecture, computer science, mathematics, etc.
2.Submit application and fees
AACE Members US$350.00 Non-Members US$500.00 for the regular fee, subtract $50 for the early fee deadline. Submit the application, work/education verification and fees, at least 40 days before the next exam date to be scheduled at an exam site.
3.Document experience/education
Applications are reviewed and verified. Please submit a copy of college degree(s) with your application, plus any letters that could expedite the verification process.
4.Pass the examination
To become PSP™ certified, an overall passing score must be achieved, as determined by the Certification Board.

The examination process
The PSP examination consists of four parts (1 hour 45 minutes each).
Part I is Basic Knowledge. It consists of multiple-choice questions concerning the basics of planning and scheduling.
Part II is a real-time Communications Exercise. It requires the candidate to draft the equivalent of a one-page typewritten (maximum) memorandum to simulate reporting on planning and scheduling analysis to the project manager, explaining the issues and proposing a solution regarding a given problem.
Part III is a Practical Exercise. This part entails answering a series of multiple-choice questions concerning various aspects of a single problem.
Part IV is Planning and Scheduling Applications. It consists of multiple-choice questions involving planning and scheduling scenarios.


Manfaat mempunyai sertifikasi PSP
Seperti halnya sertifikasi profesional yang lain, mengetahui afiliasi lembaga pengeluar sertifikasi profesional dengan dunia industrinya dan negara-negara yang biasa menerapkan/menggunakan lembaga ini sangatlah perlu. Hal ini penting, agar kita mengetahui hasil dan tujuan, dari apa yang ingin kita dapatkan(/harapkan) setelah mendapatkan sertifikasi ini.
Walaupun mungkin ada juga yang beralasan demi menambah bidang keilmuan, namun menurut saya, kalau hanya sekedar untuk sebuah keilmuan dan pengetahuan saya kira tidak perlulah sertifikasi.
Kemudian pertanyaannya, seberapa penting dan manfaat sertifikasi ini?
Jadi bagi pribadi-pribadi yang ingin menambah nilai jualnya terutama yang mengincar jenis pekerjaan sebagai profesional Planning And Schedulling (Project Control) hal ini sangat tepat. Karena AACEI ini sudah terkenal di dunia industri konstruksi dan juga dinegara asalnya, Amerika, hampir semua industri konstruksi berafiliasi dengan standard keilmuan ini. Dan pasar di negara-negara middle east juga sangat memperhatikan kualifikasi dan sertifikasi Internasional seperti ini.
Namun kalau untuk industri Indonesia, tidak seperti halnya PMP apalagi di dunia industri IT, untuk PSP saya belum melihatnya sebagai suatu kebutuhan yang mendesak bagi Industri Indonesia.

Kamis, 17 November 2011



Imam Robandi, salah seorang alumni ITS yang menjadi pengarang buku The ethos of sakura, yang memang sungguh menarik untuk dibaca lembar-perlembar bukunya, karena setiap lembarnya penuh dengan inti dan makna dan cerita soal ethos atau karakter orang jepang yang digambarkan bagaikan bunga sakura dijepang yang memberikan keindahan penuh makna ketika bersemi.

#Memulai
Buku ini dimulai dengan cerita mengenai menyambut kesuksesan yang harus mempercayai diri ini sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna (Khoiru Ummah) sebagai khalifah dibumi yang luas ini, dengan karakter "manusia super" untuk menjadi sukses.
Diawali dengan sebuah kata MEMULAI, sebuah "action", sebuah pekerjaan awal dari sebuah mimpi, harapan dan doa. Langkah awal ini merupakan jalan yang harus ditempuh dalam sebuah proses yang harus berjalan sesuai hukum alam, berproses dari yang kecil kemudian terus membesar.

#Winning Spirit
Karakter jepang dengan "martial arts"nya yang terkenal seperti: Judo, Karate juga Jujitsu nya, selalu mengajarkan: bila memang tersedia untuk menjadi yang terbaik, untuk menjadi orang nomor #1, bukan menjadi pengekor. Adalah pilihan yang terbaik untuk mempunyai karakter menjadi pemenang: "winning spirit", bukan pecundang, untuk menjadi nomor satu, yang selalu berada didepan. Untuk itu perlu menghilangkan faktor yang menghambat, seperti faktor-faktor dari lingkungan yang tidak mendukung.

#Berproses
Kemudian soal kebiasaan untuk membuat target dan waktu pencapaian yang definitif. Karena target yang matang dan jadwal yang definitif adalah etos orang jepang yang selalu bertanggung jawab. Jadwal adalah bukan ramalan atau prakiraan, namun lebih merupakan "guide" untuk mengukur keberhasilan maupun kegagalan, untuk dapat mendeteksi berhasil atau gagalnya suatu pencapaian.
Pencapaian membutuhkan proses. Angka 6 datang setelah angka 5, untuk mencapai angka 6 anda harus melangkah dari langkah awal memulai dan terus bertingkat. Semua butuh proses perbaikan secara bertingkat dengan hubungan sebab akibat, dan butuh waktu, dan semuanya tidak ada yang mendadak. Seperti halnya Honda yang pada awal-awalnya ditolak oleh ribuan perusahaan, dan terus berusaha sebagai sebuah proses dan kemudian terakhir berbuah manis dan menjadi besar sampai dengan sekarang.
Pelajaran yang bisa diambil oleh orang jepang dengan ethos sakura-nya, yaitu kesabaran untuk melakukan proses pencapaian, ibarat menciptakan keindahan pohon bonsai yang terkenal itu, diperlukan kesabaran bertahun-tahun untuk menjadikannya pohon kecil nan indah yang lebih bernilai, semua butuh proses dan kesabaran.

#Usaha yang besar
Berorientasi target jangka panjang, artinya juga harus menempatkan proses dan juga target antara dan target jangka pendek. Ketiganya perlu kombinasi untuk menyelesaikan semua target, dan bersinergi untuk mencapai target jangka panjangnya.
Kemudian dari target-target tersebut, harus disertai oleh harapan atau hasil yang besar. Diibaratkan seperti memancing, tentunya ini membutuhkan umpan yang besar. Analogi tentang harapan /dan angan-angan yang besar memerlukan "umpan" atau usaha yang besar pula. Tidak mungkin dapat memancing ikan hiu dengan umpan seekor cacing, yang berarti pula tidak mungkin mendapatkan sukses besar dengan kerja yang "biasa-biasa" saja.
Itulah ethos sakura ..

Rabu, 16 November 2011



Menarik sekali tulisan dari Dadang Kadarusman tentang Pekerjaan Dengan Bayaran Tertinggi
Tentang soal dunia bekerja dan bayaran aka kompensasi saya juga punya catatan yang semoga bermanfaat untuk dibagi:

1. Memantaskan diri:
#Tentang Diri.
Sebuah kata yang sering kita dengar dari beberapa motivator tentang soal memantaskan diri.
Atau istilah yang lain adalah miroring, berkaca diri. Dimanakah dan siapa kita, dan mau seperti apa kita? Dan bagaimana lingkungan sekitar meresponse terhadap segala perilaku kita saat ini?
Disaat kita memantaskan diri untuk sebuah posisi atau pekerjaan tertentu.
Atau mungkin seperti dalam soal mencari jodoh, semuanya itu adalah soal memantaskan diri.
Karena segala sesuata yang terjadi adalah sebuah "response" sekitar kita (alam) terhadap sikap dan atitude kita, dalam lingkaran kekuasaanNYA.
Disaat kita mencari jodoh misalnya, yang sesuai dengan keinginan kita, yang berperilaku baik dst.. Tentunya kita harus memantaskan diri untuk menjadi orang yang berperilaku baik, seperti ada pepatah: "orang baik jodohnya adalah orang yang baik dan begitupula sebaliknya".
Disaat kita selalu bersemangat untuk melakukan pekerjaan dan bekerja sesuai dengan kinerja yang diinginkan oleh perusahaan atasan misalnya, secara logis (harapannya) adalah pasti akan mendapatkan response yang bagus dengan penilaian positif dari atasan dan juga perusahaan. Dan itu artinya peningkatan pendapatan. "The more you do the more will you get".
#Ketika merasa sudah pantas.
Namun pertanyaan apakah ketika kita sudah melakukan yang terbaik, namun perusahaan juga belum melihat harapan kita? Mungkin yang kurang dalam tulisan itu adalah perlu ada komunikasi dengan atasan kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Karena bila tidak, bagaimana bisa dia tahu, mungkin dia merasa "everything is fine, bussines as usual, everybody happy"?
Saya kira ini adalah sebuah usaha atau action yang harus dilakukan. Dari pada sekedar sebuah harapan atau mimpi tanpa tindakan.
Bekerjalah dengan passion dan semangat, karena anda menghargai diri anda, perusahaan anda akan menghargai anda, namun bila tidak, perusahaan lain yang akan menghargai anda ..:)

2. Memberdayakan diri:
#Harga diri, percaya diri..
Untuk meningkatkan "harga diri" diperlukan polesan-polesan dan upgrade, baik knowledge, skills, kemampuan berkomunikasi dan juga yang paling penting adalah Atitude.
Memberdayakan diri sendiri adalah meningkatkan kemampuan dengan memberikan nilai tambah dan value bahwa memang kita pantas dibayar mahal.
Untuk mendapatkan harga yang mahal, anda memerlukan "modal" yang cukup, seperti knowledge dan skills yang bisa dijual dan ini merupakan prasayarat untuk mencapai tujuan kita ketempat yang kita inginkan.
#Etos kerja dan etos diri.
Sebenarnya banyak soal etos kerja yang digambarkan oleh para motivator, dari etos kerja sakuranya cak Imam Robandi, Etos kerja Indonesia Jansen Sinamo sampai dengan etos kerja muslim Ibrahim Elfiki. Semuanya merujuk pada kata kerja: sikap dan atitude yang baik dan positif.
Kita bisa memilih semua etos yang pantas dan sesuai dengan jati diri kita, tanpa harus berpatokan pada satu prinsip saja.
#Benchmark.
Benchmark dengan dunia luar, atau merasakan berapa nilai jual kita adalah salah satu cara mengatasi "burn-out" dalam bekerja. Mencoba dengan memasarkannya keluar, dan "mencari tahu" seberapa nilai jual kita dipasar.
Dalam beberapa penilitian psikologi menunjukkan bahwa hal ini akan memberikan penyegaran terhadap perasaaan "burn-out", kelelahan psikis.
Disanalah kita akan lebih banyak belajar tentang diri, karena dalam beberapa kali pengalaman dengan dr.wawan (wawancara) ini, yang paling sering ditanyakan: "apakah kelebihan anda dan apa kekurangan anda?", disaat itulah seseorang interviewer akan merasakan "aura" anda apakah cocok dengan "aura" perusahaan yang dilamar.
Yang kemudian juga akan membuat kita lebih bisa belajar menilai diri, kondisi yang ada sekarang dan harapan dam kemudian menjadi semangat dalam memperbaiki diri dan fokus pada kekuatan, serta akhirnya akan meningkatkan "harga diri" kita.
Dan kemudian tentunya dengan melakukan inilah kita bisa jadi memutuskan untuk memilih "hijrah" untuk menemukan kesempatan dan tantangan-tantangan baru.

3. Hijrah:
#Pilih bahagia..
"The longer you stay in one place, the greater your chance of disillusionment. (Art Spander)"
Semakin lama anda berada disuatu tempat, maka akan semakin besar anda akan menemukan kekecewaan begitu kira-kira artinya.
Artinya anda harus selalu bergerak untuk menemukan kebahagian anda dalam banyak hal, termasuk dalam bekerja.
Hijrah juga maksudnya bisa jadi mencoba posisi yang baru dalam perusahaan yang disesuikan dengan bakat, minat dan juga kesempatan yang ada.
Intinya kita sendirilah yang menentukan karir kita, untuk meraih kebahagiaan yang ingin kita raih.
Bukan orang lain, apalagi berharap pada perusahaan.
Kebahagiaan itu bisa merujuk pada kebahagiaan diri, ketika kita merasakan puas dan bangga akan hasil kerja kita (dan keluarga kita), atau kebahagiaan untuk orang lain, seperti kebahagiaan rekan kerja (costumer kita) dan juga mungkin kebahagiaan orang disekitar kita dan /atau lingkungan.
Pilihan kebahagiaan dan menemukan kebahagiaan saat ini juga, adalah cara yang paling mudah dalam berbagai pilihan pencarian tujuan kehidupan..
#Loyal terhadap profesionalisme.
Jaman memang sudah berubah, bahkan orang jepang yang katanya loyalis, sudah berubah dengan angka perpindahan karyawan yang tinggi dari perusahaan satu ke yang lain. Karena dunia industrialisasi yang fokus pada working capital, sudah berubah menuju ke digitalisasi dengan fokus pada human capital.
Seseorang sebagai individu lebih dihargai kemampuannya (profesional) dari pada sekedar seorang loyalis.
Kata-kata Loyal seharusnya melekat pada pribadi dengan sebuah kata integritas, atau loyal terhadap profesionalisme.
Apabila dari hasil benchmark kemudian menjadi sebuah "good problem", yang artinya pilihan ini adalah pilihan yang "lebih baik" karena mengandung harapan.
Daripada sebuah "bad problem" yang lebih merupakan adanya ancaman.
Karena memang yang membuat manusia bergerak karena dua hal: Ancaman (ketakutan) dan Harapan (yang berarti juga passion/hasrat).

Demikian sekedar catatan pribadi yang menjadi publik..dan semoga bermanfaat.

Rabu, 09 November 2011


Negara ini memang sudah habis tentang kebanggaan, sebab setiap yang diberitakan hanyalah soal memalukan.

Negara ini memang sudah habis stok pahlawan, sebab setiap yang diberitakan hanyalah soal pencitraan.

Kami semua haus dan butuh figur untuk ditiru, karena kami semua rindu dan ingin berbuat sesuatu.

Marilah kita lupakan rating-rating penggiring opini, karena sudah lelah kita mentertawakan diri sendiri.

Marilah kita tiru apa yang kita anggap perlu, karena apa yang kita sering lakukan akan menjadi attitude.

Marilah memperbaiki diri dan bekerja pada hal-hal yang kita nikmati, karena menikmati pekerjaan yang dilakukan adalah awal kesuksesan sejati.

Marilah menjadi pahlawan-pahlawan baru, disetiap hal yang menurutmu bisa berbuat sesuatu.

Karena semua itu berawal dari mimpi dan tujuan yang jelas,
dan untuk membuatnya nyata terjadi diperlukan kerja yang keras.

Salam menjelang hari Pahlawan,
Menjelang Ulang Tahun ITS ke 51.

Minggu, 06 November 2011



Menarik sekali tentang wawancara eksklusif Vivanews dengan pak Kuntoro ini, salah satu tokoh TI (Teknik Industri) yang disegani..
Dan barusan juga sempat membaca berita di Koran Tempo, tentang pelaporan Korupsi salah seorang mentri, oleh unit Khusus yang salah satu tokohnya yang membuka kasus ini ternyata pak Kuntoro juga (Kepala Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4)), khusus untuk ke 2 hal ini, menurut saya ini hal yang patut diapresiasi dan didukung.

Saya mencatat kutipan dari wawancara tersebut tentang pelajaran yang dapat kita ambil dalam melihat kehidupan sebagai sebuah Proyek, Perubahan dan Pengambilan Keputusan:

"(Tiga hal) itu yang penting: change, proyek, (dan)memutuskan."

CHANGE, dari perspektif pak Kuntoro, mengibaratkannya seperti dalam ilmu Ergonomi, ilmu tentang kenyamanan dan kesesuaian dari sisi gerak manusia.
"Bahwa tak ada yang terbaik. Tapi yang ada adalah yang lebih baik".
Dimana dalam perspektif saya, walaupun mungkin lain, namun muaranya sama, artinya tentang arti changes dan menyikapi perubahan.
"Changes" itu sendiri memang tidak dapat dihindarkan dalam dunia pada saat ini.
Menyikapi terhadap perubahan, yang berarti pula : penyesuaian terhadap perubahan, beradaptasi dan atau menjadi pelaku perubahan itu sendiri. Berubah atau mati..begitulah kira-kira bagi seorang penganut paham evolusi dan/atau revolusi.
Perubahan (kearah yang positif) itulah yang membuat seseorang menjadi lebih baik dan lebih BERARTI dalam kehidupan.

PROJECT, "hidup ini tidak pernah kontinu, selalu penggalan-penggalan" begitulah komentarnya yang dituliskan.
Istilah yang digunakan "Proyek" cukup menggelitik saya, karena dengan mengibaratkan menyatukan penggalan-penggalan, fase dan episode kehidupan dari yang terserak menjadi satu kesatuan dan tujuan.
Seperti halnya dalam kumpulan proyek terdapat Program (atau biasa disebut PMO/Program Management Office / Portofolio).
Contoh mudahnya seperti Program NASA dalam membangun pesawat ulang-alik, terdapat banyak proyek-proyek didalamnya, dari proyek pembuatan sistem pembakaran, proyek penelitian kaca tahan sinar UV dst, yang semuanya berujung pada Program pembuatan pesawat ulang-alik.
Sepertinya pak Kuntoro sangat menyadari bahwa penggalan-penggalan kisah kehidupan merupakan episode-episode kehidupan yang harus dijalani.
Dalam perspektif saya, mungkin ini yang sering disebut orang dengan:
"Sepertinya kita yang bisa memilih, namun ternyata episode-episode itu memang telah TERPILIHKAN"
Dan tugas kita adalah merajut potongan-potongan kehidupan itu menjadi suatu episode utuh tentang TUJUAN HIDUP.
Dan memang hidup harus mempunyai tujuan atau yang dituliskan Rene Suhardono tentang finding your purpose of life (Vission).
Silahkan tentukan tujuan kehidupan anda, sebagai PROYEK yang harus dilakukan.
Dan belajar dari setiap fase kehidupan selayaknya sebuah proyek, dengan fase-fasenya, dari fase planning / perencanaan sampai dengan eksekusi pelaksanaannya untuk mencapai tujuan.
Setiap orang mempunyai PROGRAM Kehidupan, dalam sebuah PROYEK-PROYEK, dan itu adalah PROYEK tentang DIRI menuju ke tujuan akhir kepadaNYA.

DECISSION / MEMUTUSKAN, ya memang dalam setiap hari kita harus menentukan pilihan-pilihan yang harus dilakukan, dari hal yang sederhana, ingin pakai baju apa kita pagi ini, sampai dengan pilihan-pilihan yang sulit dalam kehidupan, seperti menikah, mencari kerja dlsb.
Soal memutuskan selain diperlukan daya kritis dan logis, dengan pengetahuan dan teknik-teknik untuk bagaimana mengetahui akar permasalahan, mitigasi atau pemecahan masalah, dan kemudian dilakukan keluaran ke sekitarnya dengan komunikasi, negosiasi dan pengambilan keputusan. Juga dibutuhkan pengalaman dan daya pikir "out of the box" untuk dapat menemukan solusi atau keputusan yang tepat, untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik tentunya, seperti pada point yang pertama tentang "Change".
Dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Dan tentunya yang paling utama adalah menyadari bahwa dari setiap keputusan ada pada yang MAHA menentukan.
Tiada daya upaya tanpa kehendak dari Yang Maha Berkuasa.

Ya selain ketiga inti itu, pak Kuntoro juga menyebutkan:
"Tiga itu inti. Tapi menuju ini, you tetap mesti belajar matematika, fisika, itu ilmu dasar. You mesti tahu ilmu perkakas, ilmu ekonomi, mengerti psikologi. Mengambil keputusan itu psikologi, tapi ada juga matematikanya. Gabungan itu semua, jadi ilmu yang memadukan berbagai kemampuan menjadi satu untuk melakukan perubahan lebih baik."

Yang berarti inti (atau HATI) itulah yang menggerakkan semuanya, namun tetap memerlukan tulang, otot dan kulit
dengan pembelajaran-pembelajaran tentang ilmu dasar dan hal-hal lain yang menunjang ke Perubahan yang lebih baik (Change) dalam menjalani setiap episode kehidupan (Project) dengan selalu mengambil Keputusan-keputusan yang tepat dengan bimbingan Tuhan (Decission)

Demikian sekedar catatan pribadi yang menjadi publik dan semoga bermanfaat....

Selasa, 25 Oktober 2011


Seperti halnya buku "the secret" Rhonda Byrn, apa yang kita pikirkan akan menjadi magnet terhadap sesuatu hal. Barusan saja saya berusaha menulis tentang ini, tentang masalah "integrity" atau integritas dalam bahasa serapan di Indonesia untuk milis PMI Indonesia, namun masih "nyantol" dalam handheld saya…
Tidak tahu harus berbuat apa. Jadi saya harus menulis ulang lagi tentang ini, namun sekaligus berkah karena mendapatkan triger dari tulisan tentang "Kecerdasan spiritual" dan hubungannya dengan PMBOK oleh pak Jaya Martha ini.

Sebagai insan penggiat Project Management (yang saya coba singkat sebagai: PM), sudah seharusnya masalah integritas adalah masalah yang sangat krusial dalam tulisan dibawah ini, yang mengambil topik sebagai "Kecerdasan Spiritual", dan hubungannya PMBOK dan ditambah dengan puisi "Jaman Edan" Ronggo Warsito ...

Yang ingin saya tanggapi agar lebih universal adalah masalah "integritas". Integritas dalam kata asalnya bahasa Inggris Integrity secara harfiah adalah; Ketulusan hati, Kejujuran; Keutuhan. Sudah lama Indonesia kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang mempunyai Integritas... Bangga sebagai bangsa Indonesia yang utuh yang jujur, religius dan agamis.

Bagi saya, saya melihat Integritas sebagai suatu sikap yang utuh yang mencerminkan compliance terhadap peraturan dan nilai-nilai (baik formal maupun non formal) yang ada sebagai seorang profesional
dibidangnya. Seingat saya, Masalah integritas, dalam test Project Management Professional (PMP) juga merupakan bagian dari exam, ada soal yang mempertanyakan tentang integritas ini yang biasa juga disebut "code of conduct" atau "Bussined ethics" atau mungkin bisa juga disebut sebagai integritas. Dan sertifikat ini bisa dicabut apabila kita terjerat masalah hukum / ethical.

Kelanjutan untuk diskusi, saya akan berangkat dari analisa dari premis berikut:

Premis Pertama:
Milis ini membawa nama ID/Indonesia sebagai sebuah kumpulan "insan profesional" di Bidangnya.

Premis turunannya:
Berapa banyak proyek indonesia menjadi sebuah "cibiran" dunia internasional karena dipenuhi dengan "kong-kalikong", "angpao", "sogokan" dan lain sebagainya. Dan itu terjadi di Indonesia yang
katanya Indonesia adalah bangsa yang agamis. Dan kenyataannya banyak kasus proyek yang sekarang dimeja hijaukan...

Sebenarnya siapa yang bertanggung jawab??
Jawabnya adalah kita semua, karena seharusnya sebagai penggiat PM di Indonesia, mengkampanyekan Integritas sebagai suatu kesatuan yang utuh sebagai seorang profesional.

Hal itu bisa dimulai dengan:
1. Peningkatan sosialisasi melalui milis lembaga profesional disini tentang masalah integritas. Sebagai kampanye bersama yang anti KKN. Karena saya yakin untuk hal memberantas KKN ini harus dimulai dari
lingkungan kita sendiri. Compliance terhadap peraturan, baik compliance terhadap peraturan internal perusahaan, lembaga pengatur negara dan ini harus menjadi pegangan utama setiap insan profesional dalam melangkah.

2. Lebih menghargai sertifikasi profesional yang ada, dan mendukung berkembangnya sertifikasi di Indonesia. Karena dengan berkembangnya sertifikasi profesional sebagai suatu standard kompetensi sekaligus
banchmark dengan dunia Internasional.

China saja sudah mempunyai PMP berbasis bahasa China, Indonesia - mengapa tidak?. Begitupun dengan sertifikasi semacam CMNP utk SCM.
CMIIW.

3. Lebih menghargai masukkan dan input dari kumpulan profesional, baik formal dan informal, sehingga peraturan dapat di customize lagi agar tidak menjadi sebuah peraturan yang malah jadi constrain dunia usaha.
Wacana dimilis APICS-ID tentang kampanye ERP di dunia pemerintahan / DPR kemarin, sangat saya dukung. Dan perlu juga dukungan semua pihak. Karena dengan sistem ERP atau e-procurement diyakini dapat mengurangi "kenakalan" oknum. Kalau bisa sebagai insan profesional dapat memberikan solusi alternatif dengan ERP "lokal" yang murah dan terjangkau tanpa harus memakai ERP yang "njlimet". Ribuan pakar IT Indonesia saya yakin mampu membuatnya, namun hanya karea kurang "jualan" maka tidak terpakai.


Orang Baik Sulit Dapat Promosi ?

---------------------------------------------------------------
Sebuah tulisan yang sangat menarik yang saya dapat dari milis :
---------------------------------------------------------------

ORANGTUA atau para ahli selalu menyarankan agar seorang karyawan bisa bekerja dengan baik dan berperilaku baik jika ingin cepat mendapatkan promosi. Namun kenyataannya, orang baik sering kali menjadi orang terakhir yang diperhitungkan untuk mendapat promosi. Apa yang salah?

Saat kita kecil atau mulai masuk dalam dunia kerja, orang tua, bahkan konsultan karier, kerap kali memberi saran agar kita selalu bersikap sopan, bisa dipercaya, baik hati, kooperatif, dan toleran. Dengan sifat dan sikap ini, orang-orang di sekeliling kita, termasuk atasan, akan menyukai kita. Kita akan memiliki banyak teman, dan tentu saja karier akan melaju pesat.

Tapi nyatanya tidak begitu. Dr Christine Riordan, Dekan University of Denver’s Daniels of Business, sekaligus konsultan berbagai perusahaan, yang telah melakukan studi dan pengamatan selama lebih dari 20 tahun,menyimpulkan bahwa terlalu baik tidak akan mampu membuat seseorang naik jabatan.

Bahkan, ia berani mengatakan bahwa bersikap terlalu baik bisa menghambat kemajuan karier dan memperlemah sebuah kepemimpinan. Begitu juga dengan sikap memelihara, simpatik, dan suportif. Sikap-sikap ini juga tidak terlalu berguna bagi kenaikan jabatan,juga bagi kenaikan gaji.

Namun, tentu saja ada juga berita baiknya. Bersikap baik dan ramah berhubungan dengan kepuasan hidup dan bekerja. Orang-orang yang memiliki kualitas ini umumnya punya produktivitas kerja yang baik.Tentu saja hal ini dibutuhkan perusahaan.

Pertanyaannya, mengapa bersikap baik dan ramah bisa menghambat karier? Jawabnya, karena sikap ini membuat orang tersebut cenderung enggan untuk melakukan konfrontasi atau kesulitan lainnya di tempat kerja.

Riordan menuturkan pernah bekerja sama dengan seorang wakil direktur bagian marketing sebuah rumah sakit. Ia adalah orang yang menyenangkan.Pada awal kariernya, ia sangat sukses. Namun, begitu mencapai level wakil direktur, ia mengalami kesulitan menghadapi berbagai kepentingan dan konflik yang mengharuskannya cepat mengambil sikap. Karena terbiasa bekerja dengan kondisi yang harmonis,ia menjadi lambat saat diharuskan bertindak cepat.

Kelambanannya ini lalu membuat eksekutif yang lebih lincah dan dinamis mengambil keputusan tanpa keterlibatannya. Karena frustrasi, menurut Riordan, sang wakil direktur itu lantas mengundurkan diri.

“Pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini ialah seorang pemimpin harus mampu mengatasi setiap tantangan yang muncul. Ia harus mampu memilah kepentingan mana yang harus diutamakan di antara banyak kepentingan,” kata Riordan, seperti dikutip dari Careerbuilder.com.

Masih menurut Riordan,untuk menjadi manajer yang sukses, seseorang harus mampu mengatasi isu-isu kontroversial sebagaimana ia merespons hal-hal yang konstruktif atau menangani kritik. Ia harus mampu membuat sebuah keputusan yang sulit dan membantu memulihkan kerja karyawannya yang buruk.

Satu hal lagi, seorang pemimpin harus mampu membuat keputusan yang tidak populer, sebuah tantangan yang umumnya dihindari oleh mereka yang ingin selalu bersikap baik dan sopan.

Orang yang baik umumnya juga enggan untuk menunjukkan pendapatnya karena tidak ingin ada kontroversi atau tidak ingin melawan arus. Ia juga sungkan untuk meminta kenaikan gaji, promosi, atau kesempatan mengerjakan proyek yang berprospek tinggi.Karena itulah,orang yang lebih cekatan akan menyalip orang tersebut atau karena keengganannya untuk pamer,maka hasil kerjanya tidak dilihat atau terlihat atasan.

“Juga sudah banyak buktinya bahwa pemimpin yang terlalu baik akan kesulitan untuk mengatasi konflik. Saat menghadapi sebuah konflik, maka ia akan mempertontonkan sebuah kepemimpinan yang lemah,”tegas Riordan.

“Jahat” bukan solusi

Jika menjadi orang yang baik bukan pilihan, tentu akan ada pemikiran bahwa menjadi orang yang “jahat” akan lebih menguntungkan. Riordan tidak setuju dengan pemikiran tersebut. Mengambil jalan yang ekstrem, dengan menjadi karyawan atau atasan yang membuat karyawan lain tersiksa, tentunya juga akan menghancurkan kariernya.

Sebenarnya, bersikap baik, kooperatif, toleran, dan mudah memaafkan adalah sifat yang baik. Asalkan sikap-sikap tersebut dilakukan pada saat yang tepat.Jika sikap ini dilakukan saat dibutuhkan sikap yang sangat tegas dari seorang pemimpin, maka sikap baik dan mudah memaafkan akan membuatnya terlihat sebagai pemimpin yang lemah.

Masalahnya,karena sikap baik itu umumnya sudah melekat dari kepribadian seseorang, agak sulit untuk mengubahnya.Namun tetap saja, seorang pemimpin atau mereka yang ingin menjadi pemimpin harus bisa “memaksa” kepribadiannya untuk menyesuaikan dengan tugas dan tujuannya sebagai pekerja atau pimpinan.

Solusi ..

Lantas, bagaimana agar bisa sukses dalam karier dengan kepribadian yang sudah dimiliki? Cara terbaik ialah dengan menganalisis sikap atau perilaku seperti apa yang bisa membuat Anda bisa mendapatkan promosi atau meraih kesuksesan. Perhatikan pula perilaku apa yang bisa menimbulkan hal sebaliknya. Intinya, cobalah bersikap lebih fleksibel dan jangan memaksakan menerapkan kepribadian yang tidak cocok dengan lingkungan kerja.
Setiap mereka yang ingin memperoleh kenaikan jabatan atau menjadi pemimpin harus mampu bersikap seimbang dan menempatkan sesuatu sesuai kondisi. Dan yang paling penting, tetaplah seperti diri Anda sendiri.. be yourself .. tapi lakukan tindakan yang tepat jika menyangkut kredibilitas dan kekuatan kepemimpinan. Selamat Mencoba dan Meng-Instropeksi Diri.. and.. See ya ON TOP J

- Michael Ballack Inc. -

Untuk menjadi profesional di bidang Manajemen Proyek (PM), menurut saya, yang pertama dan yang terpenting adalah NIAT dan KEINGINAN yang kuat untuk belajar tentang hal ini. Dan belajar yang paling efektif adalah dengan praktek : "learning by doing".
Karena pada intinya PM, yang telah didefinisikan dalam beberapa literasi yang saya ketahui, lebih merupakan kombinasi antara "Science"/"Skills" dan "Art". Untuk itu experience dan pengalaman proyeklah yang menjadi penentunya.



SET OF SKILLS:
Seperti yang di tuliskan dalam PMBOK dan beberapa literatur, set of skills yang harus dimiliki untuk menjadi "profesional" dalam bidang PM ini, kalau boleh diringkas adalah sebagai berikut:

- Planning, Adalah kemampuan untuk merencanakan pekerjaan yang berarti mampu mengidentifikasi pekerjaan (task) yang harus dilakukan, termasuk mengidentifikasi berbagai dependensi dalam melakukan pekerjaan itu, kemampuan untuk memperkiraan biaya, waktu dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek. Kemampuan perencanaan termasuk juga pengetahuan dalam menggunakan software-software yang sudah banyak tersedia, seperti yang paling sederhana: Ms.Excell, untuk spreadsheet perhitungan, Ms. Project atau tools yang lain dalam manajemen proyek: Primavera, Crystall Ball, PERT Master, SAP, PIMS, dlsb.

- Controlling Adalah kemampuan melihat, menilai status dan mengkontrol sebuah proyek. Setiap insan PM perlu mengetahui bagaimana menentukan status proyek yang sedang berlangsung, (Where we are) dan juga terhadapap rincian rencananya. Dengan menggunakan metodologi dan teknik yang sudah ada, seperti EV analysis (Earn Value Analysis), Critical Path Method Analysis, Risk and Issue Register and dan lain sebagainya.

- Managing Kemampuan mengelola/ me-manage setiap aspek dalam sebuah proyek dan terutama juga adalah kemampuan untuk mengelola berbagai risiko-resiko didalam proyek. Karena seorang PM yang profesional harus dapat mengidentifikasi setiap resiko baik yang muncul baik dari internal maupun eksternal organisasi proyek.
Hal ini untuk menjaga dan mengkontrol terjadinya perubahan lingkup kerja (Scope Of Work) atau bahkan tidak tercapainya pencapaian tujuan, tertundanya / tidak terselesaikannya ruang lingkup kerja. Dan juga termasuk bagaimana mengatur semua sumber daya (Resourcess: Man, Machine & Materials). Untuk kemudian bagaimana menggunakan teknik-teknik manajemen proyek untuk mengelola semua resiko itu dan mencapai tujuan-tujuan proyek yang selalu terbatas pada triple constrains (Waktu, Biaya dan Quality).


SET OF ARTS
Project Management juga merupakan Art atau Seni, dalam artian Manajemen Proyek lebih merupakan "bahaviour dan attitude" untuk dapat menjadi manager yang baik. Karena menjadi PM bagaikan menjadi seorang "conductor" dalam sebuah opera musikal yang memerlukan kepemimpinan dan mengatur permainan semua alat musik dan melodi untuk menjadi harmoni yang indah.
Banyak hal dituliskan dalam berbagai tulisan mengenai PM yang baik terutama mengenai behaviour ini, namun beberapa hal yang terpenting mungkin bisa saya tuliskan dibawah ini:

Thinking Ahead / Vision , Yaitu seseorang yang mempunyai visi atau pandangan jauh ke depan dalam ruang lingkup sebuah proyek. Selalu berpikir ke depan, dalam menentukan langkah-langkahnya. Bagi sebagian besar orang, mereka hanya fokus pada tugas yang berada di hadapannya, namun sayang (mungkin) mereka tidak melihat lebih jauh kedepan, dan antisipasi terhadap apa yang akan terjadi di depan pada sebuah proyek. Jadi perananan PM inilah dengan "vision" nya akan selalu memberikan arahan kepada seluruh Project Team. Vision disini mengarah pada guidance dan leadership seorang Project Manager.

Attention to Details Terkadang permasalahan yang kecil bila tidak di handle dengan baik akan mengakibatkan permasalahan yang besar dikemudian hari. Seperti yang sering disebutkan dalam soal management: "The evil is in the details". Jadi seorang PM memerlukan perhatian kepada setiap detail permasalahan, dan harus bisa memberikan prioritas terhadap permasalahan-permasalahan yang harus dihadapi oleh Proyeknya. Walaupun pada prakteknya tidak harus semua permasalahan dikerjakan oleh seorang PM sendiri. Artinya dengan memperhatikan dengan details setiap permasalahan, akan memberikan guidance / arahan kepada anggota Project Management Team (PMT)untuk memperhatikan masalah tersebut sesuai dengan bidangnya.

Ability to Influence / Leadership Kemampuan Project Manager untuk bisa mempengaruhi, mengarahkan dan memimpin sebuah team. Kemampuan untuk memberikan pengaruh ini tergantung pada kemampuan dan komunikasi untuk mempengaruhi orang.
Perencanaan yang baik tidak akan berarti apabila tidak bisa di ikuti, walaupun, oleh salah satu anggota proyek saja. Karena Proyek ini merupakan pekerjaan sebuah team dari pada sekedar pekerjaan personal. Bahkan dalam beberapa referensi menyebutkan waktu seorang Project Manager dalam sebuah proyek 90% nya adalah KOMUNIKASI.


Belajar Project Management juga berarti HARUS belajar PROJECT CONTROL (Planning & Controlling)
Jadi dari set of skills diatas kemudian akan menuntun seorang PM dapat mempunyai set of Arts sebagai seorang Project Management yang Profesional. Begitupun sebaliknya, dengan kemampuan non teknis mengenai "Vision", mempunyai atensi terhadap "Details" dan kemampuan untuk "Influence" orang bagi seorang project manager mau tidak mau harus mempelajari mengenai knowledge / skills tentang "Perencanaan (Planning) dan pengendalian (Controlling) dan juga termasuk Managing itu sendiri.


Soal Sertifikasi


Saya terkenang sekali dengan wejangan pak Musyanif, Dektur Pembangunan Perumahan (PP), disalah satu kesempatan, tentang pendidikan lanjutan / sertifikasi:
"Pendidikan lanjutan atau sertifikasi itu harus berpegang pada prinsip "FIT to PURPOSE"..Ibarat obat suplement,akan menjadi baik dan bermanfaat bila sesuai dengan kebutuhan, Namun bila kebanyakan atau kelebihan "dosis"nya, maka bisa dibilang overdosis atau malah bisa bikin sakit ..:).. ".
Artinya soal sertifikasi, yang juga sama dengan studi lanjutan (baik S2 dst) adalah ibarat Obat Suplement yang akan menunjang dari purpose / tujuan kita dalam hal karir dan pekerjaan kita. dan harus disesuaikan dengan tujuan yang kita inginkan. Jadi disesuaikan saja dengan "self questions" tentang karir kita:
"Mau kemana karir dan tujuan kerja kita kedepan ?" , "Mau jadi apa kita 3 tahun kedepan, 5 tahun kedepan , 10 tahun kedepan?". Dan ini soal pemikiran jangka panjang, artinya training / kursus / Sekolah lanjutan (S2 dst) itu harus sesuai dengan passion (keinginan) kita dan karir / pekerjaan kita di masa yang akan datang atau mendukung pekerjaan saat ini. Jadi kembali lagi terhadap NIAT dan KEINGINAN kita untuk karir ke depan.

Kalau kita memang tertarik dengan ilmu Project Management . Project Control , dan ingin lebih tahu didalamnya, maka sesuai dengan tulisan saya diatas, lebih tepat untuk langsung "terjun" kedalam dunia kerja tersebut.
Kalau memang saat ini bekerja di luar Project Management / Project Control, minta saja ke supervisor / manajer utk melakukan kegiatan-kegiatan Project Management / Control tsb.Soal sertifikasi juga soal benchmark pribadi dan merupakan "self esteem" bagi yang memilikinya.
Apalagi kalau ada kesempatan untuk mendapatkannya dari fasilitas kantor..:)
Walaupun tidak menjamin orang yang sudah certified akan lebih bagus kemampuannya, yang kemudian akhirnya banyak berpulang pada kemampuan masing-masing orang di "real world".

Senin, 24 Oktober 2011


"They need the problem-solving and creative skills to support a higher value-added manufacturing sector and the business, thinking and behavioural skills for a higher productivity service sector," the report says. The bank says there are gaps in all these groups of skills in newly hired professionals across the region."

http://www.theaustralian.com.au/higher-education/east-asian-universities-fail-to-deliver-workplace-skills/story-e6frgcjx-1226169982606

Sepertinya peningkatan "marketable" skills adalah kuncinya,
1. Perbaikan kualitas market lulusan / alumni diatas kertas, dengan memperbaiki kualitas CV, dengan tambahan memberikan training-training yang juga marketable dalam dunia industri seperti autocad, hysis atau software-software praktis yang memang secara praktis dibutuhkan oleh dunia industri.
2.Perbaikan kemampuan berkomunikasi sebagai bentuk direct selling yang juga sangat penting, dalam hal memasarkan diri, termasuk didalamnya komunikasi dlm bahasa asing.
3.Atau secara radikal membalikkan paradigma diatas, dengan menciptakan pasar kerja sendiri, technopreneur atau enterpreneur,Dan ini butuh keberanian dan tekat seperti cak Eko dan cak Gunaris.


Satu hal lagi yang aku lupa sampaikan:

#Fokus terhadap tujuan akhir, bukan pd tujuan antara.
(Belajar bukan sekedar Nilai/lulus tapi untuk menjadi seorang praktisi/profesional kedepannya)

Seperti tulisannya Dr.Paul D Giamalvo, suhu saya dalam Project Managament dalam beberapa kali trainingnya dan di milis, pd email di bawah:

"In ALL fields of expertise, we need to change the focus from the ability to pass written examinations to producing competent, capable PRACTITIONERS"

Artinya perlu perubahan paradigma mahasiswa, dalam belajar, yaitu mengetahui tentang untuk apa dia belajar tentang mata kuliah tertentu.
Tentunya dengan memberikan gambaran, kira-kira bagaimana ilmu ini diaplikasikan dalam dunia nyata (kerja). Sehingga mahasiswa dapat terarah dan lebih semangat. Sehingga dia dapat menentukan karir masa depannya semenjak mahasiswa berdasarkan minat (passion) nya.
Saya juga sebenarnya produk dari budaya mengejar Nilai , mengejar kelulusan dst.. (yang merupakan tujuan antara bukan akhir) Tanpa mengetahui esensi dari pelajaran yang saya ambil.
Hasilnya: Berhasil lulus dengan IP diatas rata-rata kawan2, tapi I'm master of none ...hahaha...:)
Setelah merenung sejenak, untungnya dalam kuliah tersebut ada satu nilai yang nyempil indah dengan nilai AB, di mata kuliah Manajemen Operasi dan Produksi yang diajar oleh pak Boby di Mesin yang selalu saya ikuti dengan semangat..(salam hormat saya untuk beliau), dan akhirnya saya mempunyai takdir, pindah jalur dari Mesin ke Manajemen Proyek yang seharusnya diisi oleh orang TI dan/atau Teknik Sipil dan Perencanaan. Disitulah saya kemudian belajar banyak tentang Focus to the STRENGTH not only to improve the weakness..
Selain memperbaiki kekurangan, tapi harus lebih fokus juga kepada kekuatan/keunggulan..

Belajar dari India


Selalu ada banyak cara untuk belajar dari saudara kita itu..
#Solid dan solider, #Self Confidence dan berpikir #Strategis dan Taktis..

Dan kalau boleh menambahkan adalah tentang keSEDERHANAAN orang India.. Walaupun sederhana mereka pun tetap Bahagia..

Seperti yang ditulis

diblog
ini:

#Fokus pada kekuatan:
Komentar saya, sekaligus tentang tulisan tentang Orang India, Selain jago memasarkan diri kalau buat CV yang membuat seperti lucky luke (lebih cepat daripada bayangannya) dan berlembar2, juga kemampuan bahasa inggrisnya memang diatas rata-rata orang asia, kecuali philipina.
Walaupun secara kemampuan 11-12 (hampir sama) dengan orang kita, bahkan seharusnya kita lebih baik, dapat menyatakan iya tanpa harus geleng-geleng kepala ..hahaha...:)
Kesimpulannya sekilas pandang perbandingan dengan orang India, kita mempunyai keunggulan yaitu: Turthwothies..KEJUJURAN..dan Dapat dipercaya.


Being modest or "want less" is much simpler for being rich.
Seperti kata nya Erich Fromm:
"There are two ways to be rich: one is to have more the other is to want less.."

Jadi mengapa takut?

Work with Passion



Finding my #passion...
Sound it's eassy.. Sepertinya gampang menemukan passion / hasrat..
Namun rupanya memerlukan perenungan yang panjang untuk menemukannya..
Ada yang mencoba menentukan passion nya dari tumpukan buku yang dibelinya..
Dan ada pula yang menentukan passionnya berdasarkan hobinya..
Seperti yang disebutkan dalam bukunya @ReneCC Suhandono: Your Career is Not Your Job, passion is not what you are good at, it is the most you enjoy it..
Kadang aku merasa enjoy dan asyik ketika menulis dan menyebarkan semangat kepada kawan di BBM maupun dimilis.. Terutama tentang topik-topik disekitar pekerjaan saya dan apa yang pernah saya baca terutama self motivation dan soal keberuntungan...
Kadang saya menemukan kenikmatan dan kebahagiaan ketika orang berkumpul dan aku bercerita tentang mengapa aku "seberuntung" ini..
Aku rupanya senang mempunyai pengaruh yang baik, pengaruh yang bermanfaat tentunya..

Ya, saya merasa menjadi orang yang selalu beruntung,
Beruntung karena dilahirkan oleh orang tua yang sangat menyayangi dan memanjakan saya semenjak kecil hingga kini. Yang saya harus mendapatkan restu dan doanya secara terus menerus. My 1st Angle
Beruntung ketika mempunyai pendamping hidup yang selalu memberikan peringatan dan saran dalam menempuh kehidupan yang lebih baik. Dan saya sungguh beruntung dapat mensinergikan Energi saya bersamanya. My 2nd Angle
Beruntung ketika mempunyai dua malaikat kecil, yang lucu dan semoga selalu sehat dan selalu dapat membahagiakan kedua orang tuanya ..amien...
Dan berbagai keberuntungan-keberuntungan yang saya harus saya syukuri.
Dan saya juga beruntung, dilahirkan dalam agama yang selalu mengajarkan untuk selalu berharap kepadaNYA, dan tiada sekutu bagiNYA. Dengan keyakinan, dalam semesta Aku, bahwa semua yang baik itu berasal dariNYA, sementara semua yang buruk itu berasal dari diriku sendiri dalam kekuasaan dan kehendakNYA.
Subhanallah ...Maha suci اَللّهُُ atas segala sesuatu...

Keberuntungan itu rupanya sangat pas dan sederhana diteorikan oleh @Ipphoright Santosa..
Dalam bukunya #7KR 7 keajaiban Rejeki
Hmm..apakah ini passion saya?

#fingerprints of the winner..
Everybody is unique..
Seperti halnya sidik jari seseorang yang sangat spesifik setiap manusia, sehingga tidak pernah ditemukan manusia, walaupun kembar siam-identik sekalipun, tidak ada yang mempunyai pola sidik jari yang sama.
Dan setiap keunikan itu mempunyai kelebihan yang masing-masing diciptakan Tuhan untuk hambaNYA.
Do What You Are... And live in your uniqueness..

Seperti yang saya tulis diatas, saya merasa menjadi pribadi yang unik, yang merasa beruntung atas segala kondisi saat ini..
Dan saya selalu berusaha untuk memperluas pengetahuan yang rasa-rasanya menarik untuk saya ketahui lebih lanjut. Dan selalu merasa positif dan antusias dalam menikmati proses panjang ini..

#Purpose of life
Dan seperti firman Tuhan: akan AKU ciptakan Khalifah didunia..
Khalifah? Apa maksudnya? Khalifah adalah pemimpin. Menjadi pemimpin minimal untuk dirinya dan keluarganya.
Namun arti seperti apa yang dimaksud? Antusias ? Antusias terhada apa?
Khalifah dibumi, yang menyadari keberadaan diri kita sebagai yang harus dapat memberi arti dan bermanfaat. Sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat memeberikan manfaat..(Kontribusi)
Kontribusi yang nyata sebagai bagian umat, dalam lingkungan masyarakatnya, dalam komunitasnya dan dalam lingkungan terkecilnya: keluarga.
Hmmm.. Rupanya semua passion itu juga harus dilakukan secara anthusias.
Belajar soal keunikan dan keunggulan diri sendiri, soal kontribusi bagi lingkungan sekitar kita, dan apa yang menjadi legacy soal kita.

#Values
Kazuo Inamori, menuliskan: bahwa VALUES adalah kumpulan jati diri, niat dan pedoman terbaik yang bisa dipikirkan oleh masing-masing kita.
Dan jawabnya ketika ditanya tentang hal yang terbaik bagi manusia: RIGHTEUSNESS..(Kebenaran & Kebajikan)..
Sungguh menarik, sangat sesuai dengan apa yang saya coba pahami dengan nilai-nilai yang saya pahami saat ini:
Melakukan yang BAIK dan BENAR.
Yang berarti "Membiasakan yang benar, bukan membenarkan kebiasaan"
"Walaupun Tujuan kita baik, namun tetap harus dilakukan dengan BENAR"
Karena apabila sesuatu hal walaupun tujuannya baik, tapi dilakukan dengan tidak Benar, maka hasilnya akan tidak baik"
Hasil dari action (dari kata kerja) BAIK dan BENAR merupakan fungsi perkalian, dimana salah satu fungsinya Negatif, maka akan menghasilkan sesuatu yang Negatif.
Keduanya harus sama-sama positif untuk menghasilkan hasil yang baik (SUKSES).

#Zona Nyaman,
Wow, ternyata memang saya merasa berada di zona nyaman...
Pernah merasa tidak ada lagi yang harus diperbaiki, ditingkatkan dan dimajukan.
Dan pilihan dalam karir seperti ini hanyalah:
NYAMAN atau DHASYAT...dan akhirnya mungkin zero sum game, yang mana harus memilih salah satu dan mengeliminir option yang lain...
Dalam Zona Nyaman tidak akan pernah ada #Kenajuan, tidak pernah merasakan Ultimate results..atau berusaha sebaik-baiknya..
Berusahalah untuk selalu berubah yang terbaik ..

Kamis, 20 Oktober 2011


Tulisan yang saya dapat forward email, yang sangat menarik untuk di ikuti :
--------------------

Beberapa Sikap Agar Memiliki Kualitas Pribadi Baik Sehingga Melahirkan Kehidupan yang penuh Berkah

1.Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang.
Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.
Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura,
mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak".
Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular.
Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Rendah Hati
Beda dgn rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan.
Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati.
Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk.
Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.
Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya.
Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan.
Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Bersikap Positif
Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif,
bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun.
Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan drpd keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi,
lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

5. Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria,maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati.
Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan.
Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri.
Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Bertanggung Jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh.
Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan.
Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun.
Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Kepercayaan Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya,
menghargai dirinya dan menghargai orang lain.
Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru.
Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.
Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan.
Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil.
Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar.
Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan.
Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empati
Empati adalah sifat yg sangat mengagumkan.
Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.
Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak,
tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri.
Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain

Raihlah Kepercayaan



Dalam dunia nyata, biasanya kita selalu dihadapkan kenyataan dan mempertanyakan:

"Mengapa dia yang menjadi Manager/Pimpinan, bukan orang itu (atau saya)? Mempertanyakan karena orang itu (atau saya) mungkin lebih baik dan lebih layak daripada dia, karena kemampuan teknis dan non teknis orang itu (atau saya) lebih dari pada dia...?"
Lalu mengapa bisa terjadi ??

Jawabannya sederhana:
Yang menjadikan seseorang menjadi Manajer/Pimpinan karena dia "DIANGKAT" oleh yang berwenang mengangkatnya.
Ya...sesederhana itu..

Nah persoalannya kemudian menjadi, mengapa dia diangkat?
Untuk hal ini, menurut saya, karena satu hal: KEPERCAYAAN.

Dari contoh resuffle KIB, Seseorang yang mempunyai wewenang (Presiden) akan mengangkat orang-orang dibawahnya (Menteri) yang dia percayai.
Kepercayaan bukan semata kemampuan.

Bisa jadi kita merasa dekat dengan seseorang yang mempunyai wewenang untuk mengangkat, namun "dekat" itu sendiri belum tentu bisa mendapatkan kepercayaan.
Karena untuk mendapatkan kepercayaan, saya percaya, ini butuh proses (yang bisa jadi panjang) yang harus ditempuh, dan harus "jeli" untuk melihat kesempatan untuk meraih kepercayaan.

Jadi bangunlah Kepercayaan, dimulai dengan diri sendiri dengan PERCAYA DIRI dan kemudian bangun kepercayaan kepada orang-orang sekitar kita dengan sikap kita dan bekalilah diri kita dengan kemampuan untuk membuat orang PERCAYA kepada kita.Dan kemudian seterusnya orang-orang yang berada di atas kita.
Dan tentunya harus PERCAYA juga bahwa semua itu adalah kehendakNya (Iman).

Raihlah KEPERCAYAAN.